Tuesday, February 7, 2012

Presiden Maladewa "Mohamed Nasheed" Mengundurkan Diri

Presiden Maladewa, Mohamed Nasheed, mengundurkan diri setelah aksi protes besar-besaran selama beberapa pekan yang memicu pemberontakan polisi, Selasa kemarin. Sejumlah pihak menyebut aksi yang dilakukan oposisi dan kepolisian itu sebagai upaya kudeta.

Presiden pertama Maladewa yang terpilih secara demokratis itu kemudian menyerahkan kekuasaan kepada Wapres Mohamed Waheed Manik.

”Saya mundur karena saya bukan penguasa yang suka menggunakan kekuatan senjata. Jika pemerintahan ini tetap mempertahankan kekuasaan, maka penggunaan kekuatan senjata tidak terelakkan sehingga justru akan menyengsarakan rakyat,” ungkapnya dalam pernyataan yang disiarkan oleh televisi nasional.

”Saya memilih mundur karena saya percaya, jika pemerintahan ini tetap berkuasa, maka sangat mungkin kita akan menghadapi pengaruh-pengaruh internasional,” tambahnya tanpa menjelaskan negara mana yang dimaksud bakal memberi pengaruh internasional.

Pada 1988, India membantu menggagalkan upaya kudeta di negara kepulauan di Samudera Hindia tersebut dengan mengirimkan satu batalion pasukan untuk mendukung pemerintah Maladewa.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri India, Syed Akbaruddin, menyatakan pemberontakan itu merupakan masalah internal Maladewa ”yang harus diselesaikan oleh rakyat Maladewa sendiri”.

Nasheed memenangi pemilihan presiden pada 2008 dan berjanji akan menerapkan demokrasi secara penuh di negara itu. Dia sering berapi-api menyosialisasikan bahaya perubahan iklim dan kenaikan permukaan air laut, apalagi Maladewa merupakan negara kepulauan yang terletak di tengah samudera.

Namun, dia mendapat kecaman keras dari pihak oposisi setelah menangkap seorang hakim yang dia tuduh sebagai kroni pendahulunya, Maumoon Abdul Gayoom, yang memerintah Maladewa selama 30 tahun. Aksi protes menentang penangkapan itu berujung krisis konstitusional. Nasheed berusaha bertahan melawan tuduhan yang menyebutkan dia berkuasa seperti diktator.

”Ini sebuah kudeta. Kepolisian dan orang-orang Gayoom serta sejumlah elemen militer mendesak Presiden Nasheed mundur. Menurut saya, ini merupakan kudeta,” ungkap salah seorang ajudan Nasheed yang enggan disebutkan namanya.

Kekacauan politik di Maladewa tersebut memperlihatkan perseteruan lama antara Gayoom dan Nasheed yang pernah dipenjara selama enam tahun semasa pemerintahan Gayoom karena memperjuangkan demokrasi.

Senin (6/2) malam, sekelompok orang menyerbu lobi stasiun televisi VTV yang berafiliasi dengan pihak oposisi, sementara polisi yang memberontak menyerang dan membakar stasiun MNBC yang selama ini menjadi corong Partai Demokrat Maladewa pimpinan Nasheed.

”Kami meminta Nasheed diadili atas tindak korupsi dan pelanggaran hukum. Kami memberi dukungan penuh kepada presiden baru,” ujar Hassan Saeed selaku pemimpin DQP, salah satu partai dalam koalisi oposisi.

Selasa kemarin, tentara menembakkan gas pemedih mata terhadap massa polisi pemberontak dan demonstran yang mengepung markas Pasukan Pertahanan Nasional Maladewa di dekat Alun-alun Republik.